Protected by Tutorial Blogspot

Sabtu, 11 Februari 2012

An Nuur Budi Utama menjuarai kompetisi Wirausaha Muda Mandiri

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta An Nuur Budi Utama menjuarai kompetisi Wirausaha Muda Mandiri 2011 tingkat nasional berkat usaha jasa penerbitan dan percetakan yang didirikannya.

"Usaha yang digawangi oleh mahasiswa Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UGM itu berhasil menjadi juara pada kategori perdagangan dan jasa untuk kelompok mahasiswa," kata Ketua Bidang Kompetisi Center of Enterpreneur Development (CED) UGM Ibnu Wahid FA di Yogyakarta.

Menurut dia, An Nuur merupakan salah satu mahasiswa binaan CED UGM yang berhasil lolos dan menjadi jawara dalam kompetisi Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2011. CED UGM merupakan lembaga yang didirikan UGM untuk membina mahasiswanya dalam berwirausaha.

"Pada WMM 2011 tercatat sebanyak 3.741 pendaftar dari seluruh Indonesia yang mengikuti kompetisi yang terbagi dalam empat kategori untuk kelompok mahasiswa dan empat kategori kelompok alumni dan pascasarjana," katanya.

An Nuur mengatakan, ide bisnis yang ditekuninya saat ini berawal saat perekonomian keluarganya dalam situasi kebangkrutan. Kala itu orang tuanya gagal dalam pemilihan calon legislatif.
"Kondisi tersebut akhirnya mendorong saya untuk bisa hidup mandiri dan mulai membuka usaha jasa penerbitan dan percetakan," katanya.
Menurut dia, pada November 2009 dirinya memulai usaha jasa foto kopi dan percetakan. Dengan bermodal Rp 16,75 juta untuk membeli mesin percetakan dirinya membuka usahanya.
"Pada awal Januari 2010 saya mengembangkan bisnis dengan membuka usaha penerbitan dan percetakan buku pendidikan yang beroperasi dengan nama Dee Publishing," katanya.
Ia mengatakan, usaha yang dijalankan itu fokus mencetak dan menerbitkan buku-buku pendidikan seperti buku ajar, jurnal, dan buku panduan. Selain bahan kuliah, dirinya juga menerbitkan buku pendidikan untuk pelajar SMP dan SMA.
"Hingga saat ini percetakan itu telah menerbitkan sebanyak 142 judul buku. Beberapa buku yang telah diterbitkan adalah buku bahan kuliah ilmu teknik, peternakan, pertanian, sosial, kebidanan, dan kedokteran," katanya.

Menurut dia, buku-buku tersebut telah digunakan di sejumlah universitas antara lain UGM, Universitas Padjajaran, Universitas Pasundan, UPN Veteran Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, Universitas Diponegoro, Akademi Kebidanan Muhammadiyah Cirebon, dan sejumlah sekolah di Salatiga dan Madiun.
"Usaha yang saya jalankan memang berbeda dengan penerbitan dan percetakan pada umumnya. Dee Publishing tidak memberikan batasan minimal cetak dalam setiap penawarannya," katanya.
Ia mengatakan, Dee Publishing mencetak buku berdasarkan pesanan. Buku-buku yang dicetak semuanya pasti terjual karena memang berdasarkan pesanan.

Dalam pemberian royalti, dirinya memberikan perlakuan yang berbeda. Dirinya memberikan royalti sebesar 25 persen, sedangkan penerbit pada umumnya hanya memberikan royalti sebesar 10 persen.
Selain itu, dalam menjalankan usaha, dirinya juga memfasilitasi para penulis buku dalam proses penulisan dengan memberikan panduan cara penulisan yang baik dan benar.
"Kini saya mempekerjakan tiga karyawan tetap dan tiga part timer atau paruh waktu. Omzet pada 2011 mencapai Rp 248 juta," katanya.
Read More

Jadi bidan Untuk Masyarakat

Tak ada mimpi dan harapan yang tak mungkin diwujudkan. Kata-kata ini sepertinya tepat untuk menggambarkan perjalanan Ni Made Sadgunasih dalam mewujudkan impiannya menjadi seorang bidan. Made adalah mahasiswi akademi kebidanan. Kerja keras dan keyakinan akhirnya bisa mengantarkan perempuan berusia 26 tahun ini untuk menempuh pendidikan tinggi. Di tengah keterbatasan perekonomian keluarga, apa yang dicapai Made merupakan sebuah hal yang patut dibanggakan.

Made, saat ditemui beberapa hari lalu, menceritakan kisahnya di tengah sukacita menerima beasiswa 1.000 dollar AS dari DKT Indonesia. Ia mengungkapkan, sejak kecil, menjadi bidan adalah cita-citanya. Setelah menamatkan SMA, mimpinya itu seakan sirna karena ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya di akademi kebidanan. Akhirnya, Made memutuskan untuk mencari pekerjaan. Berbagai jenis pekerjaan sudah ia lakoni, hingga terakhir ia bekerja sebagai pegawai di sebuah spa di Denpasar, Bali.

Namun, mimpinya kembali muncul. Ia tak menyerah. Sedikit demi sedikit, penghasilan yang diperoleh dikumpulkannya. Hingga akhirnya Made berhasil mencecap bangku kuliah dan mendapatkan beasiswa yang bisa meringankan bebannya membiayai kuliah. Sebagian beasiswa akan dimanfaatkannya untuk membuat usaha kecil-kecilan agar bisa mendukung biaya kuliahnya hingga akhir studi.

Kini, dengan harapan baru itu, ia mencoba meraih kembali mimpinya di akademi kebidanan. Mimpi menjadi bidan kini mendekati kenyataan. Sebuah mimpi yang dilatarbelakangi langkanya tenaga kesehatan di kampung halamannya.

"Di tempat tinggal saya tidak ada bidan, yang membantu kelahiran di sana hanya paroji dan parojinya itu biasa membantu lahiran kambing. Mirisnya, pisau yang digunakan untuk lahiran kambing itu juga yang ia gunakan untuk memotong tali pusat manusia. Dan itu yang terjadi pula pada kelahirannya," kisah Made.

Setelah menamatkan pendidikannya, selain praktik di rumah sakit, Made juga punya harapan bisa memiliki klinik.

"Impian saya adalah ingin menjadi pemilik sebuah yayasan yang mempunyai beberapa rumah sakit bersalin untuk ibu dengan ekonomi bawah serta ingin mempunyai sebuah perusahaan spa dan akan membuat bagaimana spa itu murah sehingga juga bisa dinikmati orang kelas ekonomi bawah. Selain itu, dari kecil saya juga mempunyai mimpi membuat sekolah bakat gratis. Jadi, selain bisa bersekolah, ia juga bisa sekalian mengasah bakatnya," tutur Made.

Sumber kompas.com
Read More