Made, saat ditemui beberapa hari lalu, menceritakan kisahnya di tengah sukacita menerima beasiswa 1.000 dollar AS dari DKT Indonesia. Ia mengungkapkan, sejak kecil, menjadi bidan adalah cita-citanya. Setelah menamatkan SMA, mimpinya itu seakan sirna karena ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya di akademi kebidanan. Akhirnya, Made memutuskan untuk mencari pekerjaan. Berbagai jenis pekerjaan sudah ia lakoni, hingga terakhir ia bekerja sebagai pegawai di sebuah spa di Denpasar, Bali.
Kini, dengan harapan baru itu, ia mencoba meraih kembali mimpinya di akademi kebidanan. Mimpi menjadi bidan kini mendekati kenyataan. Sebuah mimpi yang dilatarbelakangi langkanya tenaga kesehatan di kampung halamannya.
"Di tempat tinggal saya tidak ada bidan, yang membantu kelahiran di sana hanya paroji dan parojinya itu biasa membantu lahiran kambing. Mirisnya, pisau yang digunakan untuk lahiran kambing itu juga yang ia gunakan untuk memotong tali pusat manusia. Dan itu yang terjadi pula pada kelahirannya," kisah Made.
Setelah menamatkan pendidikannya, selain praktik di rumah sakit, Made juga punya harapan bisa memiliki klinik.
"Impian saya adalah ingin menjadi pemilik sebuah yayasan yang mempunyai beberapa rumah sakit bersalin untuk ibu dengan ekonomi bawah serta ingin mempunyai sebuah perusahaan spa dan akan membuat bagaimana spa itu murah sehingga juga bisa dinikmati orang kelas ekonomi bawah. Selain itu, dari kecil saya juga mempunyai mimpi membuat sekolah bakat gratis. Jadi, selain bisa bersekolah, ia juga bisa sekalian mengasah bakatnya," tutur Made.
Sumber kompas.com

0 komentar
Posting Komentar